Sabtu, 02 Juni 2012

Ujian Pendidikan Karakter


Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di Madrasah Ibtidaiyah At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Selasa Mei 2012
Dua minggu ke depan, kesaktian pendidikan karakter akan diuji. Karena pada tanggal 3 Juni 2012, diva pop dunia Lady Gaga direncanakan menggelar tur konser dunia bertajuk The Born This Way Ball Tour 2012 di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Rencana konser artis asal Amerika bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini ternyata telah menuai sejumlah penolakan dari berbagai unsur masyarakat. Mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Organisasi Masyarakat (Ormas) seperti Front Pembela Islam (FPI), Partai Politik (Parpol) seperti Partai Persatuan Pembangunan, hingga Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf ikut menolak. Hal ini mendorong Polda Metro Jaya untuk tidak memberikan ijin konser tersebut.
Bagi sebagian Anak Baru Gede (ABG),  lagu-lagu dari artis berciri khas pakaian provokatif dan ekstravagan ini mungkin sudah tidak asing lagi. Namun sayangnya sedikit dari mereka tidak menyadari nilai-nilai negatif dalam cara berpenampilan dan di setiap lantunan bait-bait lagunya. Hal ini terlihat dari larisnya 40.000 lembar tiket konser hanya dalam hitungan satu hingga dua hari saja.
Penolakan terhadap konser Lady Gaga tidak terjadi di Indonesia saja. Negara sekuler seperti Korea Selatan dan Negara komunis seperti Republik Rakyat China (RRC) pun menunjukkan sikap yang sama. Bahkan untuk memproteksi generasi muda dari nilai-nilai yang tidak selaras dengan budaya bangsa mereka, pemerintah China melarang keras peredaran musik dan penayangan video Lady Gaga di situs youtube.
Fenomena penolakan konser musik Lady Gaga oleh beberapa Negara tentu bukan tanpa sebab. Banyak pihak merasa khawatir dengan muatan-muatan negatif yang terkandung di penampilan dan karya-karyanya. Bahkan ada yang terang-terangan menolaknya karena karya Lady Gaga dinilai telah menghina dan merendahkan keyakinan sebuah agama. Berikut beberapa alasan mengapa konser Lady Gaga memperoleh penolakan dari banyak pihak.
Pertama, penistaan kepada agama. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, saya kutipkan untuk anda bait pertama dari salah satu single-nya yang berjudul Judas untuk direnungkan bersama. I’m in love with Judas, Judas. When he comes to me, I am ready. I’ll wash his feet with my hair if he needs. Forgive him when his tongue lies through his brain. Even after three times, he betrays me.
Dari bait pertama lagu Judas di atas, kita bisa melihat gambaran sosok Judas yang diperlakukan layaknya manusia mulia dan agung. Bahkan para audiens seolah-olah diperintahkan untuk membasuh kaki Judas dengan rambut-rambut mereka. Bait lagu ini paradok dengan keyakinan umat Kristen Katolik dan Protestan di dunia yang menganggap Judas sebagai manusia hina. Karena telah melakukan dosa besar dengan mengkhianati Jesus demi tiga puluh keping uang perak. Hal inilah yang memicu penolakan konser Lady Gaga oleh kelompok Kristen konservatif di Korea Selatan.
Kedua, pornografi. Dalam video klipnya, ia kerap berpenampilan separuh telanjang hingga hampir telanjang! Disertai gerakan-gerakan erotis yang melambangkan kegiatan seks bebas. Tidak sebatas penampilan di atas panggung saja, kontroversi cara berpakaiannya pun terjadi di luar panggung. Saya ambil satu contoh ketika ia menghadiri acara promosi album terbarunya Born This Way di Meksiko beberapa waktu yang lalu. Di mana ia memakai gaun tipis tembus pandang berwarna biru yang membuatnya nyaris terlihat telanjang. Tidak hanya itu pose-pose vulgarnya pun sempat menghiasi cover majalah Rolling Stones  dan masih banyak contoh yang lainnya.
Ketiga, praktek pemujaan setan. Lady Gaga kerap menyebut dirinya Mother Monster. Di album kedua The Fame Monster lagu-lagunya mengusung tema monster, vampir, dan kematian. Pada album berikutnya, Born This Way, sebagian pengamat menilainya seperti ingin mendirikan sekte kepercayaan tersendiri yang mengarah ke pemujaan setan. Begitupun dalam dekorasi panggung, aksi pentas dan video-videonya sering menampilkan simbol-simbol satanic dan illuminati. Seperti simbol salib terbalik yang melambangkan penentangan dan penghinaan kepada keimanan Kristiani. Simbol Baphomet atau kepala domba bertanduk sangat panjang yang melambangkan setan yang paling berkuasa di dunia penyembahan setan. Simbol pentagram yang melambangkan ilmu sihir. Simbol mata satu yang melambangkan illuminati dan kesetiaan.
Selain simbol-simbol setan, tari-tarian dan lirik lagu Lady Gaga diyakini mengandung unsur-unsur pemujaan kepada Lucifer, Baphomet dan Dewa Matahari (Ra). Sebagai gambaran saya kutipkan bait pertama dari single-nya berjudul Alejandro. I know that we are young. And I know you may love me. But I just can’t be with you like this anymore. Alejandro. Mungkin anda bertanya-tanya, siapakah Alejandro? Kalau membaca lirik atau mendengar lagu tanpa menonton video klipnya kita tidak dapat mengungkap siapa Alejandro. Dalam videonya, Alejandro dimaksudkan kepada tuhan. Lirik lagu ini merupakan pernyataan terbuka pengingkaran kepada tuhan dan penyerahan dirinya kepada setan.
Selain ketiga uraian di atas, masih banyak kontroversi yang mengundang reaksi kecaman dan penolakan publik. Seperti dukungannya kepada hubungan sesama jenis seperti dalam single-nya berjudul Born This Way. Gaya berbusana yang aneh seperti menggunakan pakaian yang terbuat dari daging mentah. Karir masa lalunya sebagai penari Burlesque dan yang lainnya. Sepertinya hal-hal konstroversial merupakan daya tarik terbesar Lady Gaga untuk mendongkrak popularitasnya di industri musik dunia.

Pendidikan Karakter
Peradaban nenek moyang kita sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan sopan-santun yang tercermin dalam warisan kebudayaan dan adat-istiadat tradisional. Pendidikan karakter yang tengah digagas saat ini merupakan upaya dunia pendidikan kita untuk mengembalikan dan memperkuat jati diri bangsa yang terasa kian memudar tergerus arus globalisasi dan liberalisasi membabi buta.
Menyikapi fenomena aktual Lady Gaga yang tengah menjadi trend topic pembicaraan di masyarakat. Muncul pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab pada pendidikan karakter bangsa? Tidak mungkin tanggung jawab ini dipikul sendirian oleh para guru di sekolah saja. Karena fungsi dan peran guru sebatas pendidikan di sekolah. Ketika pulang ke rumah maka tanggung jawab berpindah kepada orang tua. Namun orang tua pun memiliki keterbatasan dalam membendung pengaruh negatif dari arus globalisasi saat ini. Di sinilah peran pemerintah sebagai pembela di garis terdepan dalam menfilter nilai-nilai negatif dari luar yang berpotensi merusak karakter generasi muda.
Sampai saat ini saya belum mendengar Kemendiknas menyuarakan sikapnya. Begitupun dengan pihak Istana. Sebagai seorang guru, saya prihatin sekaligus geram dengan perkembangan saat ini. Hanya karena seorang bernama Lady Gaga, pendidikan karakter bangsa dipertaruhkan. Seolah-olah para promotor konser tidak memiliki rasa belas kasih kepada para generasi muda yang pikiran dan hatinya begitu polos, putih, murni yang belum ternoda hitamnya hawa nafsu setan. Demi mengeruk keuntungan dari selembar tiket konser.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar anda tentang artikel ini