Senin, 08 Oktober 2012

Buta Aksara Al Quran


Oleh : Udi Wahyudi


          Guru MDA Tawaf Al Ikhlas


Berdasarkan dara yang diperoleh daru Unit Kegiatan Mahasiswa Baca Alquran Intensif Universitas Pendidikan Indonesia, dari 2.088 mahasiswa baru UPI semester ganjil tahun 2012/2013 yang mengikuti tes baca Alquran, 1.521 orang (72,8 persen) dinyatakan “belum mampu” membaca Alquran dengan baik, tidak jau berbeda dengan hasil tes enam semester sebelumnya.
Sebagai umat Islam yang tengah digonjang-ganjing dari berbagai penjur, sudah sepantasnya kta semakin menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup kita. Jika berbicara ideal, mestinya kita memahami kandungan isi Alquran. Berdasarkan realita yang terjadi, dapat disimpulkan jika baru sebagian kecil saja yang mencapai criteria tersebut.
“Ada asap, ada api”. Jika tidak ada sebab, tidak mungkin terjadi akibat yang berarti. Menurut Slameto dalam “Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya”, secara garis besar factor penyebab gagal atau berhasil dalam mempelajari sesuatu dikelompokkan menjadi factor intern dan ekstern.
Faktor internal dibatasi hanya factor psikologis, yaitu perhatian dan minat. Jika anak sudah tidak memiliki perhatian untuk belajar Alquran, jangan harap ia akan pandai membacanya. Apabila anak kehilangan minat untuk mempelajari Alquran, karena penyampaiannya kurang menarik atau tujuannya kurang jelas, anak pun tidak akan bertahan lama dalam mempelajarinya.
Adapun faktor ekstern pertama yang mempengaruhi dalam belajar membaca Alquran adalah orang tua. Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak. pada kenyataannya, orang tua sekarang ini lebih mengusahakan anaknya untuk ikut les olah raga, matematika, atau bahasa Inggris, ketimbang les mengaji. Hal inilah yang menyebabkan anak tidak mengenal Alquran. Padahal, di akhirat sana tidak ada satu pun dalil yang mengatakan manusia akan ditanyai matematika, bahasa Inggris, atau disuruh lomba olah raga renang.
Faktor eksternal berikutnya adalah media hiburan. Dimungkiri atau tidak, kekhusyukan siswa saat ini dalam belajar Alquran sudah terganggu oleh berbagai acara hiburan. Misalnya saja media jejaring sosial dengan berbagai fiturnya yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membosankan. Stasiun televise pun berlomba-lomba membuat beragam acara menarik untuk membuat pemirsanya betah menonton nya berlama-lama. Belum lagi game online yang memiliki magnet tersendiri. Faktor eksternal terakhir adalah tidak tersedianya wahana pembelajaran Alquran. Di kota-kota besar atau pedesaan yang agamis, wahana pengajian mungkin masih menjamur. Naming, kondisi berbeda akan terjadi di tempat-tempat tertentu yang langka ustaz. Bahkan untuk mencari orang yang azan dan mau menjadi imam salat pun sulit.
Oleh karena itu, perhatian seluruh elemen, mulai dari pemerintah sebagai pemegang otoritas melalui Kemenag atau dinas terkait lainnya, orang tua, dan sekolah tempat mereka bersosialisasi, sangat dibutuhkan. Kesemuanya itu bermuara pada munculnya generasi Muslim yang kian dekat dengan Alquran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar anda tentang artikel ini