Selasa, 17 April 2012

Kurikulum Kehidupan

Oleh : Djoko Subinarto
          Penulis Lepas
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Opini
          Koran Pikiran Rakyat, Sabtu 14 April 2012


Warga yang bermukim di pulau Jawa, termasuk Jawa Barat, mesti mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa setelah gempa bumi berkekuatan 8,8 skala Richter mengguncang Aceh, Rabu (11/4). Meski belum bisa diketahui efeknya, Kamis (12/4) lalu, telah terjadi pula gempa di Lampung dan Cianjur (Pikiran Rakyat, Jumat, 13 April 2012).
Pertanyaannya, bagaiman kita harus menyikapinya? Sebagai sebuah negara yang berada di antara tiga lempeng bumi yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, Indonesia memang menjadi salah satu kawasan yang sangat rawan gempa bumi. Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu negara yang memiliki titik gempa bumi paling banyakdi dunia. Berulang kali sejumlah kawasan di negara kita pun diguncang gempa bumi.
Gempa sendiri bisa terjadi antara lain karena (1) proses tektonik akibat pergerakan lempeng bumi, (2) aktivitas sesar di permukaan bumi dan (3) aktivitas gunung bumi. Sejauh ini, tercatat beberapa gempa bumi besar yang pernah melanda Indonesia. Misalnya saja, gempa bumi Sumatra yang berkekuatan 7,9 skala Richter yang mengguncang Padang-Pariaman, tahun 2009 silam. Gempa ini menyebabkan sedikitnya 1.100 orang tewas dan ribuan luka-luka karena terperangkap dalam reruntuhan bangunan.
Ditahun yang sama, gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,3 skala Richter menggoyang dan memorak-porandakan sebagian besar kawasan Jawa Barat bagian selatan. Korban jiwa maupun luka-luka berjatuhan. Berbagai infrastruktur dan fasilitas publik mengalami kerusakan.
Dengan menyadari keberadaan negara kita yang berada di antara tiga lempeng bumi sebagaimana disebutkan di muka, mestinya penduduk negeri ini harus selalu siap—fisik maupun psikis—menghadapi setiap kemungkinan terjadinya gempa bumi. Akan tetapi, dibandingkan penduduk sejumlah negeri lain yang juga berada di kawasan rawan gempa bumi, seperti Jepang, Rumania, Turki, maupun Selandia Baru, misalnya, kebanyakan penduduk negeri ini tampaknya senantiasa masih selalu kurang sial dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gempa bumi.
Hal ini terjadi karena masih meinimnya pendidikan kesiap-siagaan menghadapi bencana alam yang diperuntukkan untuk anak-anak sekolah maupun yang diperuntukkan bagi masyarakat umum secara luas. Ujung-ujungnya bisa ditebak, penduduk kita pun tidak banyak mengetahui cara bertindak yang tepat saat terjadi bencana alam. Padahal, memiliki pengetahuan yangmumpuni ihwal kesiapsiagaan menghadapi bencana alam sangat penting untuk mengurangi risiko yang lebih buruk ketika terjadinya bencana alam.
Contohnya, tatkala gempa mengguncang Aceh, Rabu (11/4) lalu, banyak warrga yang masih sama sekali tidak mengetahui cara evakuasi yang benar. Hal ini diperparah dengan ketidaksiapan aparat memandu warga. Akibatnya, kepanikan dan hysteria missal memuncak yang menyebabkan kekacauan dan keruwetan pada saat dan setelah gempa berlangsung.

Kurikulum Kehidupan
Dalam konteks pendidikan di sekolah, sementara kalangan menilai bahwa kurikulum pendidikan kita minim berorientasi kepada kehidupan. Padahal, justru kurikulum pendidikan yang berorientasi pada kehidupanlah yang sebaiknya lebih banyak diajarkan di sekolah-sekolah kita.
Dengan memahami bahwa negeri ini sebagian besar wilayahnya berada dalam kawasan rawan gempa bumi, sudah selayaknya pendidikan gempa bumi menjadi pelajaran yang perlu lebih banyak diajarkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Sebagai mata pelajaran yang berorientasi pada kehidupan nyata, pendidikan gempa bumi idealnya bisa diajarkan mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga tingkat pendidika menengah di sekolah-sekolah kita. Tentu saja, tidakharus membuat mata pelajaran baru bagi pendidikan gempa bumi di sekolah. Pendidikan gempa bumi dapat diberikan lewat mata pelajaran yang sudah ada, misalnya mata pelajaran geografi.
Di negara-negara lain, pendidikan gempa bumi juga tidak diberikan sebagai pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan dengan pelajaran lain. Sebagai contoh, di Jepang pelajaran ini diajarkan dalam pelajaran geosains (Chigaku). Sementara di Selandia Baru, pelajaran ini diajarkan dalam peajaran geografi. Fokus utama pendidikan gempa bumi di sekolah adalah untuk mengetahui dan memahami dasar-dasar ilmu gempa bumi (seismologi) berikut segala fenomena yang berkaitan dengannya. Selain itu, untuk mengetahui dan memahami berbagai dampak gempa bumi bagi kehidupan manusia.
Di samping diajarkan untuk anak-anak sekolah, pendidikan gempa bumi sebaiknya diberikan pula bagi kalangan masyarakat masyarakat umum secara berkala, khususnya bagi mereka yang bertempat tinggal di kawasan-kawasan rawan gempa bumi. Dalam konteks ini, agaknya kita bisa berkaca pada langkah pemerintah Rumania. Menyusul gempa bumi yang terjadi di kawasan Vrancea tahun 1990 lalu, pemerintah Rumania secara berinisiatif meluncurkan program nasional pendidikan gempa bumi bagi publik secara berkala. Untuk menunjang program ini, pemerintah Rumania menerbitkan buku panduan praktis gempa bumi untuk para orangtua, anak-anak, para guru, staf sekolah dan berbagai kategori profesi lainnya serta masyarakat luas yang berada di daerah-daerah rawan gempa bumi.
Dengan adanya pendidikan gempa bumi kepada para siswadan masyarakat umum lainnya ini diharapkan semakin banyak warga negeri yang kian paham bagaimana belajar hidup dan bertahan hidup di kawasan yang rawan gempa bumi, maupun bertindak rasional dan efisien sebelum dan ketika terjadi gempa bumi, mampu mencegah bencana/ petaka lebih jauh tatkala gempa bumi berlangsung dan mampu bekerja samaserta mengambil langkah tepat bagi proses pemulihan setelah gempa bumi terjadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar anda tentang artikel ini