Minggu, 15 April 2012

Membentuk Budaya Literasi Siswa

Oleh : Wisnu Nugraha
          Guru di Ponpes Al-Basyariyyah Cigondewah Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Jumat 30 Maret 2012


Dalam beberapa kali kesempatan, sambil bercanda, saya sering melontarkan pertanyaan kepada teman-teman guru tentang siapa penyair Indonesia yang mereka kenal. Jawaban yang saya peroleh selalu sama, yaitu Chailril Anwar. Lalu ketika diajukan pertanyaan lanjutan apa puisi yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar. Jawaban seragam pun nyaris sama seperti jawaban yang pertama,”Aku”. Padahal dalam sejarah sastra Indonesia ada banyak penyair Indonesia yang hebat dan “Aku” bukan satu-satuya puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar tetapi mengapa jawabannya tidak berubah.
Kondisi di atas seolah ingin mengkonfirmasi beberapa hal tentang pendidikan Indonesia. Pertama, inilah akibatnya kalau pendidikan kita dikelola secara sentralistik-uniformistik. Siswa dipaksa untuk melahap kurikulum pembelajaran yang seragam, cara berpikir yang seragam, cara berpikir yangseragam, cara berbicara yang seragam, bahkan pakaian pun didesain untuk seragam.
Kedua, terbatasnya jawaban sosok “Chairil Anwar” untuk pertanyaan siapa penyair Indonesia, dan “Aku” untuk pertanyaan apa puisi yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar menunjukkan bahwa budaya literasi siswa Indonesia masih sangat rendah.
Literasi pada dasarnya mengacu pada kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan ini juga tidak bisa dilepaskan dari kemampuan menyimak dan berbicara. Dengan demikian, literasi identik dengan kemampuan menyeluruh keterampilan berbahasa yangterdiri dari kemampuan mnyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu seorang dikatakan literate (terdidik) apabila ia menguasai keempat keterampilan berbahasa. Dan keempat keterampilan berbahasa tersebut, khususnya keterampilan membaca dan menulis perlu terus dipelajari, dilatih, dan dibiasakan secara konsisten.
Bila seorang anak tidak mengalami pembudayaan dan pembiasaan membaca di rumah dan sekolah, maka kemampuan dan kebiasaan membacanya hampir dipastikan tidak akan berkembang. Tanpa adanya kemampuan membaca, kemampuan menulis seseorang tentu saja tidak akan tumbuh. Dengan demikian, kemampuan literasi harus menjadi jantung dari semua proses pendidikan mulai dari pendidikan prasekolah sampai ke perguruan tinggi.
Menurut Bambang Wisudo, salah seorang pegiat pedagogi dan literasi kritis, salah satu syarat utama untuk menjadikan literasi sebagai jantung dalam proses pendidikan  di sekolah adalah ketersediaan buku-buku di sekolah. Artinya membentuk budaya literasi siswa meniscayakan sekolah menyediakan buku-buku yang dapat diakses tidak hanya terbatas pada buku paket. Arus diakui bahwa buku paket masih mendominasi sekolah-sekolah di Indonesia. Banyak guru yang masih memosisikan buku paket sebagai kitab suci dan satu-satunya sumber pengetahuan yang harus dihafal oleh semua siswa. Mereka menyampaikan materi persis seperti apa yang tertera pada buku paket yang menjadi pegangannya. Boleh jadi fenomena kasus “Chairil Anwar” dan “Aku” menjadi akibat dari dominasi buku paket di sekolah.
Oleh karena itu, sudah saatnya sekolah-sekolah mempunyai keberanian untuk melepaskan diri dari ketergantungan mereka terhadap buku paket. Di tingkat SD misalnya, guru bahasa Indonesia bisa menjadikan cerpen-cerpen anak yang sudah dimuat di Koran baik local maupun nasional sebagai bahan ajar. Di tingkat SMP, ada sederet buku sastra Indonesia untuk dijadikan bahan ajar untuk menumbuhkan budaya literasi, seperti Harimau-Harimau kaya Mochtar Lubis atau Calon Arang dan Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer, dan masih banyak lagi.
Sebagai referensi, kelompok Paedia membuat daftar bacaar untuk siswa SD sampai SMA. Daftar tersebut mencakup ratusan buku yang terdiri dari buku-buku fiksi dan nonfiksi. Dalam daftar bacaan tersebut ada buku kumpulan puisi, drama, feature, biografi, dan filsafat.
Di tingkat SMA misalnya, siswa telah “dihalalkan” untuk membaca karya sastra karya Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, William Shakespeare, sampai penulis Amerika Latin Gabriel Garcia-Marquez dengan bukunya yang terkenal One Hundred Years of Solitude. Untuk nonfiksi mereka diminta membaca antara lain buku karya St. Agustine, John Locke, Albert Einstein, Charles Darwin, Immanuel Kant, Nicolo Machieavelli, sampai buku  The Communist Manifesto karya Karl Marx dan Frederick Engels.
Mengajari anak membaca buku-buku semacam itu tidak mudah membalikkan telapak tangan. Proses tersebut meniscayakan guru-guru mengerahkan tenaga, pikiran, kesabaran, dan tentu saja wawasan yang sangat luas.
Kalau literasi semacam itu dijadikan jantung pembelajaran, maka beberap tahun ke depan, saya yakin budaya literasi di Indonesia akan betul-betul terbentuk.
Tidak hanya terjadi pada siswa, tapi pada masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar anda tentang artikel ini